Menurut Ibn Taimiyah Tauhid itu terbagi menjadi tiga:
Pertama, Tauhid Rububiyyah, yaitu pengakuan bahwa yang menciptakan,
memiliki dan mengatur langit dan bumi serta seisinya adalah Allah saja. Menurut
Ibn Taimiyah, Tauhid Rububiyyah ini telah diyakini oleh semua orang, baik
orang-orang Musyrik maupun orang-orang Mukmin.
Kedua, Tauhid Uluhiyyah, yaitu pelaksanaan ibadah yang hanya ditujukan
kepada Allah. Ibn Taimiyah berkata, “Ilah (Tuhan) yang haqq adalah yang berhak
untuk disembah. Sedangkan Tauhid adalah beribadah kepada Allah semata tanpa
mempersekutukan-Nya”.
Ketiga, Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, yaitu menetapkan hakikat nama-nama
dan sifat-sifat Allah sesuai dengan arti literal (zhahir)nya yang telah dikenal
di kalangan manusia.
Pandangan Ibn Taimiyah yang membagi Tauhid menjadi tiga tersebut kemudian
diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, perintis ajaran Wahhabi. Dalam
pembagian tersebut, Ibn Taimiyah membatasi makna rabb atau rububiyyah terhadap
sifat Tuhan sebagai pencipta, pemilik dan pengatur langit, bumi dan seisinya.
Sedangkan makna ilah atau uluhiyyah dibatasi pada sifat Tuhan sebagai yang
berhak untuk disembah dan menjadi tujuan dalam beribadah.
Bantahan dari Al-Qur’an:
1. Ayat-ayat al-Qur’an, hadits-hadits dan pernyataan para ulama Ahlussunnah
Wal-Jama’ah, tidak ada yang membedakan antara makna Rabb (rububiyah) dan makna
Ilah (uluhiyah). Apabila seseorang telah bertauhid rububiyyah, berarti
bertauhid secara uluhiyyah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَلاَ يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلاَئِكَةَ
وَالنَّبِيِّيْنَ أَرْبَابًا
Dan tidak (mungkin
pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai arbab
(tuhan-tuhan). (QS. Ali-Imran : 80).
Ayat di atas menegaskan bahwa orang-orang
Musyrik mengakui adanya Arbab (tuhan-tuhan rububiyyah) selain Allah seperti
Malaikat dan para nabi. Dengan demikian, berarti orang-orang Musyrik tersebut
tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dan mematahkan konsep Ibn Taimiyah dan
Wahhabi, yang mengatakan bahwa orang-orang Musyrik mengakui Tauhid Rububiyyah.
Seandainya orang-orang Musyrik itu bertauhid secara rububiyyah seperti
keyakinan kaum Wahabi, tentu redaksi ayat di atas berbunyi:
وَلاَ
يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلاَئِكَةَ وَالنَّبِيِّيْنَ آَلِهَةً
Dengan mengganti
kalimat arbaban dengan aalihatan.
2. Demi Allah: sungguh kita dahulu (di
dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan
(Rabb) semesta alam. (QS. al-Syu’ara’ : 97-98).”
Coba Anda perhatikan. Ayat tersebut
menceritakan tentang penyesalan orang-orang kafir di akhirat dan pengakuan
mereka yang tidak mengakui Tauhid Rububiyyah, dengan menjadikan berhala-berhala
sebagai arbab (tuhan-tuhan rububiyyah). Padahal kata Wahabi, orang-orang
Musyrik bertauhid rububiyyah, tetapi kufur terhadap uluhiyyah. Nah, alangkah
sesatnya tauhid Wahabi, bertentengan dengan al-Qur’an. Murni pendapat Ibnu
Taimiya yang tidak berdasar, dan ditaklid oleh Wahabi.”
3. Pendapat Ibn Taimiyah yang
mengkhususkan kata Uluhiyyah terhadap makna ibadah bertentangan pula dengan
ayat berikut ini:
يَا
صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللهُ الْوَاحِدُ
الْقَهَّارُ، مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلاَّ أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا
أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ
Hai kedua penghuni penjara, manakah yang
baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha
Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah)
nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. (QS. Yusuf : 39-40).
Anda perhatikan, Ayat di atas
menjelaskan, bagaimana kedua penghuni penjara itu tidak mengakui Tauhid
Rububiyyah dan menyembah tuhan-tuhan (arbab) selain Allah. Padahal kata Ibnu
Taimiyah dan Wahabi, orang-orang Musyrik pasti beriman dengan tauhid
rububiyyah. Ayat berikutnya menghubungkan ibadah dengan Rububiyyah, bukan
Uluhiyyah, sehingga menyimpulkan bahwa konotasi makna Rububiyyah itu pada
dasarnya sama dengan Uluhiyyah. Orang yang bertauhid rububiyyah pasti bertauhid
uluhiyyah
Bantahan dari Hadits:
1.
عَنْ
الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ( يُثَبِّتُ
اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ) قَالَ نَزَلَتْ فِي عَذَابِ
الْقَبْرِ فَيُقَالُ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللهُ وَنَبِيِّي
مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم. (رواه مسلم 5117).
Dari
al-Barra’ bin Azib, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah
berfirman, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang
teguh itu”, (QS. Ibrahim : 27). Nabi saw. bersabda, “Ayat ini turun mengenai
azab kubur. Orang yang dikubur itu ditanya, “Siapa Rabb (Tuhan)mu?” Lalu dia
menjawab, “Allah Rabbku, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Nabiku.”
(HR. Muslim, 5117).
Hadits di
atas memberikan pengertian, bahwa Malaikat Munkar dan Nakir akan bertanya
kepada si mayit tentang Rabb (Tuhan Rububiyyah), bukan Ilah (Tuhan Uluhiyyah,
karena kedua Malaikat tersebut tidak membedakan antara Rabb dengan Ilah atau
antara Tauhid Uluhiyyah dengan Tauhid Rububiyyah. Seandainya pandangan Ibn
Taimiyah dan Wahabi yang membedakan antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid
Uluhiyyah itu benar, tentunya kedua Malaikat itu akan bertanya kepada si mayit
dengan, “Man Ilahuka (Siapa Tuhan Uluhiyyah-mu)?”, bukan “Man Rabbuka (Siapa
Tuhan Rububiyyah-mu)?” Atau mungkin keduanya akan menanyakan semua, “Man
Rabbuka wa man Ilahuka? Ternyata pertanyaan tersebut tidak terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar